SALAH NALAR

Nama Dosen : Drs. Budi
Santoso, SS
Penyusun : Sera Mutia
NPM :
28213404
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan penulis ilmiah ini dengan judul “ Salah Nalar “. Adapun penulisan ini diajukan untuk memenuhi
sebagian syarat mencapai tugas softskill mata kuliah Bahasa Indonesia 2 pada
semester 5.
Dalam
penyusunan penulisan ini masih terdapat banyak kekurangan yang mungkin
disebabkan terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Untuk itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun.
Pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dorongan dan bantuan yang
telah diberikan baik moril amupun materiil kepada :
1.
Ibu Prof. Dr. E.S.
Margianti, SE, MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma.
2.
Bapak Drs. Tjahjo
Dwinurti, Ssi, MMSI., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.
3.
Bapak Dr. Imam Subaweh,
Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Gunadarma.
4.
Bapak Budi Santoso, SS,
selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis
dalam pembuatan penulisan ilmiah ini.
5.
Kedua orang tua yang
telah memberikan dukungan dan doa nya serta semua semua pihak sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan ilmiah ini.
Akhir kata semoga penulisan ini
dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain yang berkepentingan.
Wassalamua’alaikum Wr. Wb.
Bekasi,
........................
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
i
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I PENDAHULUAN
1
1.1.
Latar
Belakang
1
1.2.
Rumusan
Masalah
2
1.3.
Tujuan
Penelitian
2
1.4.
Manfaat
Penelitian
2
1.5.
Metode
Penelitian
2
BAB II PEMBAHASAN
4
2.1. Pengertian
Penalaran
4
2.2.
Macam-Macam Salah
Nalar
4
2.2.1. Deduksi yang Salah
5
2.2.2. Generalisasi Terlalu Luas
5
2.2.3. Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif
5
2.2.4. Penyebab yang Salah Nalar
6
2.2.5. Analogi yang Salah
6
2.2.6. Argumentasi Bidik Orang
7
2.2.7. Meniru-niru yang Sudah Ada
7
2.2.8. Penyamarataan Para Ahli
7
2.3. Salah
Nalar dalam Berkomunikasi
8
BAB III PENUTUP
9
3.1. Kesimpulan
9
3.2. Saran
9
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Berpikir adalah obyek material logika.
Yang dimaksudkan dengan berpikir di sini ialah kegiatan pikiran, akal budi
manusia. Dengan berpikir manusia mengolah, mengerjakan pengetahuan yang telah
diperoleh. Dengan mengolah dan mengerjakan ia dapat memperoleh kebenaran.
Pengolahan, pengerjaan ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan,
membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lain.
Oleh karena itu, obyek material logika bukanlah bahan-bahan kimia atau salah
satu bahasa.
Akan tetapi, bukan sembarangan berpikir
yang diselelidiki dalam logika, melainkan dalam logika berpikir dipandang dari
sudut kelurusan, ketepatan. Oleh karena itu, berpikir lurus, tepat, merupakan
obyek formal logika. Kapan suatu pemikiran disebut lurus? Suatu pemikiran
disebut lurus, tepat, apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum-hukum dan
aturan-aturan yang ditetapkan dalam logika. Kalau peraturan-peraturan itu
ditepati, dapatlah pelbagai kesalahan atau kesesatan dihindarkan. Jadi,
kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan lebih aman. Semua ini
menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk pemikiran.
Atas dasar itu, gagasan, pikiran,
kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar.
Salah nalar disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara
pikirannya.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
dikemukakan diatas maka permasalahan yang menjadi perhatian dalam pembuatan
makalah ini adalah “ Bagaimana mengatasi kesalahan penalaran dalam berkomunikasi? “
1.3.
Tujuan
Penulisan
Makalah ini disusun bertujuan untuk
menambah ilmu dan pengetahuan mengenai masalah yang diangkat dalam makalah,
serta menambah wawasan supaya meminimalkan kesalahan penalaran dalam
berkomunikasi.
1.4.
Manfaat
Penulisan
Dari penulisan ini
dapat diperoleh manfaat yaitu penulis dapat lebih memahami tentang kesalahan
penalaran dalam berkomunikasi. Penulisan ini dapat dijadikan bahan referensi
bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penulisan sejenis.
1.5.
Metode
Penelitian
1)
Metode
Pengumpulan Data
Metode
yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a.
Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan
dilakukan dengan membaca literatur, mendalami dan memahami teori serta konsep
penelitian sejenis yang dijadikan landasan bagi peneliti.
BAB
II
PEMBAHASAN
3.1.
Pengertian
Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir
manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada
sehingga sampai pada suatu simpulan, juga bisa merupakan
Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.
Salah nalar dapat terjadi di dalam
proses berpikir untuk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan
pada cara penarikan kesimpulan. Dalam proses berpikir sering
sekali kita keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, kekeliruan
ini dapat terjadi karena faktor emosional, kesalahan karena gagasan, struktur
kalimat, kecerobohan, atau ketidaktahuan.
Dalam ucapan atau tulisan kerap kali
kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi
secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan,
seperti salah ucap atau salah tulis misalnya.
Ada pula kesalahan yang terjadi karena
ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu.
Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan
proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua
jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang
merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang
merupan kesalahan formal. Gagasan, pikiran, kepercayaan atau simpulan yang
salah, keliru, atau cacat disebut sebagai salah nalar.
3.2.
Macam-Macam
Salah Nalar
Komunikasi
yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya, oleh karena itu dalam
berkomunikasi perlu kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara
cermat. Sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan.
Ada beberapa macam salah nalar, yakni sebagai
berikut :
2.2.1. Deduksi
yang salah
Simpulan dari
suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak
memenuhi persyaratan.
Contoh dari
Deduksi yang salah :
· Kalau listrik masuk desa, rakyat di
daerah itu menjadi cerdas.
2.2.2. Generalisasi
Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh
jumlah premis yang mendukunggeneralisasi tidak seimbang dengan
besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil
menjadi salah.
Contoh
Generalisasi Terlalu Luas :
·
Setiap
orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais
sejati.
·
Anak-anak
tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
2.2.3. Pemilihan
Terbatas pada Dua Alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh
penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang
ada.
Contoh Pemilihan
Terbatas pada Dua Alternatif :
·
Orang
itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.
·
Petani
harus bersekolah supaya terampil.
2.2.4. Penyebab
yang Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai
sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
Contoh Penyebab yang
Salah Nalar :
·
Hendra
mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam
leluhurnya.
·
Anak
wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.
2.2.5. Analogi
yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang
menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu
segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh Analogi yang
Salah
·
Anto
walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
·
Pada
hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana
kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti
mengendarai sepeda motor.
·
Rektor
harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin divisi.
2.2.6. Argumentasi
Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap
menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh Argumentasi
Bidik Orang :
·
Kusdi
kesulitan membuat tugas makalah bahasa Indonesia karena tidak mempunyai materi
bahasa Indonesia.
·
Deliana
tidak bias menikah lagi karena ia sudah janda.
2.2.7. Meniru-niru
yang Sudah Ada
Salah nalar jenis ini berhubungan dengan
anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau orang lain melakukan hal
itu
Contoh Meniru-niru yang Sudah Ada :
·
Kita
bisa melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.
·
Saat
Ujian Akhir Semester mata kuliah Bahasa Indonesia Slamet mencotek, karena pada
mata kuliah Statistik Fitriawati juga mencontek.
2.2.8. Penyamarataan
Para Ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang
tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini akan mengakibatkan
kekeliruan mengambil kesimpulan.
Contoh Penyamarataan Para Ahli :
·
Dosen
mata kuliah Bahasa Indonesia adalah Diska, Sarjanah Ekonomi.
·
Sarifah
pandai membuat kue, ia adalah lulusan SMEA.
3.3.
Salah Nalar Dalam Komunikasi
Salah
satu penyampaian komunikasi adalah berita, baik itu dari media elektronik,
ataupun dari media massa. Penyampaian berita yang dsampaikan sering sekali
terjadi kesalahan dalam berpikir, sehingga dapat mengakibatkan kesalahan dalam
penalaran/nalar bagi penerima berita.
Kekurangcermatan
seseorang atau jurnalis dalam melihat hubungan logis antara satu fakta dengan
fakta lain dalam konteks hubungan sebab-akibat, dan kekurangcermatan itu
kemudian dituangkan dalam teks berita, bisa menyesatkan “logika” pembaca atau
pemirsa. Ketika pembaca atau pemirsa menganggap teks yang dihasilkan jurnalis
itu sebagai sebuah kebenaran, maka kesesatan logika pun jadi dianggap benar.
Fakta
berupa pernyataan yang mengandung salah nalar atau sesat logika memang
bisa saja berasal dari narasumber. Bisa saja narasumber sengaja untuk
kepentingan tertentu, atau tak sengaja karena sebab tertentu. Namun, bukan berarti
jurnalis bisa begitu saja meloloskannya menjadi fakta dalam teks berita.
Bahkan, pada tahap awal, jurnalis seharusnya langsung mempersoalkan
pernyataan yang salah nalar itu kepada narasumber.
BAB III
PENUTUP
6.1.
Kesimpulan
Dengan kemajuan zaman era
globalisasi kita dituntut untuk lebih cermat dan selalu efisien dalam
menghadapi tantangan suatu problematika kehidupan, kecermatan salah satunya
dapat kita peroleh pada komunikasi yang baik.
Untuk itu dalam berkomunikasi kita
hendaklah menggunakan kata-kata atau kalimat yang mudah di mengerti oleh orang
lain, sehingga tidak mengalami kesalahan nalar dalam berkomunikasi.
6.2.
Saran
Komunikasi yang baik haruslah didukung
dengan kecermatan dalam mengolah kata-kata atau kalimat, dengan menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar maka kesalahan dalam penyampaian informasi
atau berita dapat terminimalisasikan kesalahan nalar bagi pembaca atau penerima
berita.
DAFTAR PUSTAKA